HomeKeislamanBacaan Niat Puasa Muharam

Bacaan Niat Puasa Muharam

Keislaman Ubudiyah 0 2 likes 968 views share

IMNU.or.id – Bacaan Niat Puasa Muharam – Awal bulan Muharam, tepatnya tanggal 9 dan 10 Muharam, umat islam disunahkan menjalankan ibadah puasa yang biasanya disebut puasa Tasu’a (9 Muharam) dan Asyura (10 Muharam). Niat merupakan. Bagian penting dari ibadah puasa sunah ini adalah niat. Dalam tulisan ini kami akan memberikan informasi tentang bagaimana bacaan niat puasa sunah muharam

Bacaan Niat Puasa Muharam

Niat diucapkan seseorang dalam hati manakala orang tersebut hendak  melakukan ibadah baik ibadah sunah maupun wajib. Pada saat seseorang melafadzkan niat, ia menyatakan maksudnya tersebut dalam hati (qashad). Niat merupakan salah satu hal terpenting dalam menjalankan setiap ibadah, sesuai dengan hadits niat dari Rosulullah SAW bahwa segala sesuatu itu bergantung pada niat. Oleh karena itu niat merupakan salah satu rukun puasa dan juga ibadah-ibadah lainnya

Pada saat menyampaikan maksud ibadah tersebut dalam hati (qashad), dalam hal ini ibadah puasa sunah bulan muharam, ia juga harus menyebutkan hukum dari ibadah tersebut, apakah puasa wajib atau puasa sunah atau istilahnya (ta’arrudh).  Selain qashad dan ta’arrudh, ia juga harus menyebutkan nama ibadahnya apa (ta’yin)

Terkait niat puasa muharam tanggal 9 dan 10 muharam, terdapat perbedaan pendapat antar sesama ulama islam (khilafiyah). Ini adalah hal yang wajar dan bisa diterima.  Perbedaan tersebut adalah sebagian para ulama menyatakan bahwa ketika seseorang berniat, ia harus mengingat ‘puasa sunah Asyura’ di dalam hatinya. Kemudian sebagian ulama lain menyatakan bahwa ketika berniat, ia tidak wajib ta’yin. Penjelasan mengenai hal ini dapat dijelaskan oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami sebagai berikut.

وْلُهُ نَعَمْ بَحَثَ إلَخْ ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالنِّهَايَةِ وَالْأَسْنَى فَإِنْ قِيلَ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ هَكَذَا أَطْلَقَهُ الْأَصْحَابُ وَيَنْبَغِي اشْتِرَاطُ التَّعْيِينِ فِي الصَّوْمِ الرَّاتِبِ كَعَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ وَأَيَّامِ الْبِيضِ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ كَرَوَاتِبِ الصَّلَاةِ أُجِيبُ بِأَنَّ الصَّوْمَ فِي الْأَيَّامِ الْمَذْكُورَةِ مُنْصَرِفٌ إلَيْهَا بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَ أَيْضًا كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ وُجُودُ صَوْمٍ فِيهَا ا هـ زَادَ شَيْخُنَا وَبِهَذَا فَارَقَتْ رَوَاتِبَ الصَّلَوَاتِ ا ه

Artinya, “Perkataan ‘Tetapi mencari…’ merupakan ungkapan yang digunakan di Mughni, Nihayah, dan Asna. Bila ditanya, Imam An-Nawawi berkata di Al-Majmu‘, ‘Ini yang disebutkan secara mutlak oleh ulama Syafi’iyyah. Semestinya disyaratkan ta’yin (penyebutan nama puasa di niat) dalam puasa rawatib seperti puasa ‘Arafah, puasa Asyura, puasa bidh (13,14, 15 setiap bulan Hijriyah), dan puasa enam hari Syawwal seperti ta’yin dalam shalat rawatib’. Jawabnya, puasa pada hari-hari tersebut sudah diatur berdasarkan waktunya.

Tetapi kalau seseorang berniat puasa lain di waktu-waktu tersebut, maka ia telah mendapat keutamaan sunah puasa rawatib tersebut. Hal ini serupa dengan sembahyang tahiyyatul masjid. Karena tujuan dari perintah puasa rawatib itu adalah pelaksanaan puasanya itu sendiri terlepas apapun niat puasanya. Guru kami menambahkan, di sinilah bedanya puasa rawatib dan sembahyang rawatib,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj)

Berikut bacaan niat puasa Tasu’a sebagaimana yang dianjurkan para ulama

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Tasu‘a esok hari karena Allah SWT.”

Berikut bacaan niat puasa Asyura sebagaimana yang dianjurkan para ulama

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.”

Menurut mazzhab Syafi’i, hanya puasa wajib yang diharuskan mengucapkan niat di malam hari, sedangkan untuk puasa sunah, ia dapat mengucapkan niatnya ketika pagi hari atau siang hari selama ia belum makan, minum dan hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh

Berikut anjuran bacaan niat puasa sunah Tasu’a atau Asyura di siang hari.

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء أو عَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â awil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Tasu’a atau Asyura hari ini karena Allah SWT.” Wallahu a’lam.

Sumber: NU Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *