HomeDakwahRujukan Kaum Milenial Belajar Agama

Rujukan Kaum Milenial Belajar Agama

Dakwah 0 2 likes 598 views share

Ada satu tantangan yang dihadapi pesantren dan lembaga pendidikan agama tradisional dalam era keterbukaan informasi digital saat itu. Tantangannya adalah apakah metode belajar agama dengan konsep mereka saat ini mampu bertahan di tengah gempuran internet khususnya media sosial di mana orang-orang bisa dengan mudah mempelajari ilmu agama di mana saja dan kapan saja dengan mudah sesuai keinginan mereka. Berbanding terbalik dengan metode pesantren yang mengharuskan orang mengikuti metode belajar secara ketat

Apakah dakwah digital ini akan mematikan lembaga pendidikan seperti pesantren?

Apakah metode belajar agama mereka akan tergusur oleh para pendakwah sosmed yang saat ini menjamur?

Jawabannya adalah TIDAK

Justru sebaliknya, keterbukaan informasi dan kehadiran ustadz-ustadz sosial media yang digandrungi kaum milenial justru semakin menguatkan peran dan urgensi lembaga pendidikan yang memberikan kajian agama secara komprehensif dan terstruktur

Informasi yang disampaikan para da’i melalui media sosial tersebut hanya bagian kulitnya saja dari luasnya kajian-kajian yang harus didalami
Mereka sampaikan pemahaman sesederhana mungkin agar dapat dipahami khalayak tanpa harus mengkaji secara detil

Meski yang mereka sampaikan hanya bagian luar dan secara sederhana namun memberi manfaat yang sangat luar biasa kepada masyarakat pada umumnya. Terbukti semakin ramainya channel sosial media dan youtube para da’i-da’i ini.

Karena yang disampaikan bersifat sederhana maka perlu dilakukan pendalaman untuk mengetahui secara lengkap dari materi yang disampaikan da’i tersebut. Dan tidak ada cara lain untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif ini selain dengan bertanya langsung, bertabayun, mengikuti kajian secara rutin yang diselenggarakan lembaga pendidikan seperti pesantren ini.

Disinilah existensi pesantren dan lembaga sejenisnya tetap vital.

Satu hal yang patut diwaspadai dalam mengikuti kajian-kajian agama lewat sosial media dan youtub adalah soal rujukan, siapa da’i yang kita ikuti kajiannya. Harus kita perhatikan betul-betul materi yang disampaikan mereka. Jangan mudah tertipu dengan tampilan fisik mereka. Kita lebih fokis kepada materi seperti apa yang mereka sampaikan. Apakah materi tersebut membuat hati kita tenang atau semakin galau?. Apakah kajian tersebut membuat kita semakin menghargai dan menghormati orang lain atau justru membenci yang berbeda dengan kita?. Apakah kajian itu membuat kita semakin mencintai tanah air kita atau semakin menolak NKRI?

Artikel IM Lainnya:  Perdamaian Israel - Palestina Mungkinkah ?

Sangat penting untuk memperhatikan hal-hal tersebut di atas sebelum terlanjur mengikuti kajian namun justru menjauhkan kita dari nilai-nilai agama yang diajarakan junjungan kita nabi besar Muhammad SAW seperti toleransi, kemanusiaan yang tinggi dan semangat membela tanah airnya. Sangat penting untuk mengetahui hal-hal tersebut

Siapakah ustadz-ustadz sosial media yang layak dijadikan referensi yang membawa nilai-nilai islam di atas dalam setiap kajiannya?. Ada banyak dan di antaranya adalah gus muwafiq, Gus Miftah, Gus Nadirsyah,  Gus Baha, Gus Ulil, Gus Alwi. Sementara dari kalangan ulama dan kiai yang lebih senior antara lain Kiai Maimun Zubair, Gus Mus, Qurais shihab, Kiai Said aqil siraj, Habib Luthfi. Mereka-mereka ini yang dalam kajiannya selalu menyejukan, menghargai perbedaan, menekankan cinta tanah air. Mereka para ulama-ulama moderat yang layak menjadi rujukan bagi kaum milenial ketika mencari kajian agama di internet

Selain materi yang disampaikan moderat, secara nasab keilmuan juga tidak diragukan lagi. Beliau-beliau ini mengeyam pendidikan pesantren cukup lama bahkan hingga menjadi pendiri dan pengasuh pesantren-pesantren besar hingga saat ini. Jadi secara keilmuan keagamaan tidak diragukan lagi

Jadi…

Jangan salah memilih rujukan ustadz-ustadz sosmed ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *