HomeDakwahIMNU – Merubah Kemasan dan Mempertahankan Isi
IMNU: Merubah Kemasan dan Mempertahankan Isi

IMNU – Merubah Kemasan dan Mempertahankan Isi

Dakwah 0 2 likes 719 views share

IMNU – Merubah Kemasan dan Mempertahankan Isi

Oleh: Cariban Gaban*

IMNU.or.id – Merubah Kemasan dan Mempertahankan Isi – Dalam berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo beberapa kali menyatakan bahwa perubahan dunia begitu cepat, kita harus terus belajar agar kita tidak terus tertinggal. Pesan pesan singkat ini mengandung makna yang dalam yang dapat merepresentasikan kondisi Indonesia dibanding dengan negara-negara maju di mana mereka berlomba menciptakan teknologi kemudian menjualnya secara masif kepada negara-negara ketiga. Negara-negara berkembang termasuk Indonesia lebih banyak menjadi sasaran produk-produk mereka. Pesan singkat Bapak Presiden ini harus terus menerus disampaikan hingga seluruh pelosok tanah air agar semangat perubahan ini terpatri dalam sanubari masyarakan Indonesia dan bergerak melakukan perubahan

Tidak terkecuali kaum Nahdliyin. Ormas islam terbesar di tanah air ini yang diperkirakan ber anggotaka lebih dari 90 juta memiliki potensi yang sangat besar sekali dalam memajukan Indonesia. Namun selama ini, potensi besar tersebut lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan sesaat seperti kepentingan politik. Kondisi pendidikan dan ekonomi sebagian besar warganya tetap dalam ketertinggalan. Di sinilah relevansinya menyampaikan pesan Bapak Presiden bahwa semangat perubahan juga harus muncul dalam diri setiap warga Nahdliyin karena perubahan pada diri mereka akan sangat mempengaruhi kemajuan bangsa

Era teknologi informasi khususnya internet yang berkembang pesat beberapa tahun belakangan ini begitu terasa betapa tertinggalnya warga Nahdliyin dalam bidang pendidikan, dakwah dan ekonomi. Ketika sebagian besar pesantren masih mentabukan internet, pada saat yang sama media ini dimanfaatkan secara optimal oleh penganut islam garis keras untuk menyebarkan pemahaaman keagamaan mereka dan mendapatkan simpatisan sebanyak-banyakan. Cara ini cukup efektif dan terbukti mendapatkan simpati  yang tidak sedikit terutama dari generasi millenial. Kita bisa lihat saat ini di dunia maya baik itu website maupun social media konten-konten aswaja khususnya dari kalangan NU kalah telak. Sebagai contoh kita bisa melakukan riset kecil-kecilan dengan mengetikan kata kunci tentang islam di halaman Google maka yang muncul di halaman tersebut bukan website-website yang dikelola NU atau berfaham aswaja. Sedikit sekali website-website aswaja yang bisa muncul di halaman pertama Google sebagai prasyarat website tersebut akan dikunjungi orang. Atau kita bisa lihat di Facebook, postingan yang viral dengan banyaknya orang yang me”like”, “comment” dan “share” hingga pulhan ribu bukanlah postingan-postingan dari aswaja. Di sinilah urgensi edukasi dikalangan Nahdliyin bahwa dunia maya baik website atau social media adalah sebuah metode yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan dakwah. Kemudian langkah berikutnya adalah mengenalkan metode yang tepat dan efektif agar menjangkau orang lebih banyak lagi lewat website dan social media

Kilas balik bulan Ramadhan kemarin, ketika Guru mulia kita Gus Mus melakukan pengajian “live streaming” yang dapat kita lihat di Youtube. Ini adalah hal positif dalam menghadapi ketertinggalan kita di dunia maya. Meski masih banyak yang perlu diperbaiki seperti kemasan atau penyajiannya agar lebih entertaining mulai dari audio, latar hingga penampilan da’inya. Ini adalah langkah awal yang harus diikuti setiap da’i dan ulama NU lainnya baik di pesantren, lembaga-lembaga NU maupun secara individu dalam menyebarkan islam yang toleran. Di internet baik website maupun social media,selain kalah dalam hal engagement (like, comment, share), postingan-postingan dengan konten aswaja juga jumlahnya sangat sedikit. Membanjiri internet dengan konten-konten aswaja ini merupakan PR yang tidak ringan yang perlu melibatkan semua pihak baik institusi maupun individu-individu warga Nahdliyin

Artikel IM Lainnya:  Tasikmalaya: IMNU Hadir di Tengah Lautan Santri

Berikutnya, kemajuan teknologi internet dalam dunia e-commerce dampaknya begitu besar dalam hal perubahan cara orang bertransaksi dari konvensional ke digital. Sekali lagi warga Nahdliyin dalam hal ini masih sebagai target pasar dari kemajuan teknologi ini. Padahal dengan jumlah anggota yang sangat besar dan dengan UKM-UKM di bawahnya, Nahdlyin seharusnya memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk mengentaskan diri dari ketertinggalan dan bahkan menjadi pemimpin dalam dunia e-commerce ini. Namun sayangnya yang terjadi tidak demikian. Perubahan era digital ini terlambat disadari dan bahkan tidak bisa memanfaatkan potensi besar ini

Ketika perusahaan raksasa-raksasa internet dunia sudah melihat begitu besar potensi pasar Indonesia mulai dari Google yang pada tahun ini bersedia membayar pajak, Facebook yang akhirnya buka kantor cabang di Indonesia serta Jack Ma dengan Ali baba nya menginvestasikan hingga 15 trilyun di perusahaan marketplace local, ini harusnya dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku-pelaku ekonomi Nahdliyin khususnya agar berdampak secara positif kepada warga NU secara lebih luas. Dunia ini mungkin terasa masih awam untuk sebagian kalangan Nahdliyin tapi kita harus menuju kesana agar tidak terus tertinggal. Kita harus berani berubah karena perubahan pada diri kita agar berdampak sangat luas untuk Indonesia

Perubahan-perubahan di atas menjadi fokus perjuangan komunitas Internet Marketers NU (IMNU) kedepan di mana anggota yang tergabung adalah para pelaku bisnis online yang setiap hari terhubung ke internet minimal 8 jam mulai dari pelaku online shopping, blogger, facebook marketing, aplikasi android, youtuber, affiliate marketers, digital product creator dan lain sebagainya. Kami hadir bukan untuk mengubah konten-konten yang sudah jadi keahdlian saudara-saudara Aswaja kita baik di pesantren maupun lembaga struktural dan non struktural NU. Kita hanya ingin mengubah kemasan produk yang ada saat ini dari konvensional ke digital agar lebih menarik minat terutama bagi kalangan millenial yang cenderung visual. Mulai dari cara berdakwah hingga meningkatkan penjualan produk UKM. Kami sadar perjuangan ini tidak ringan dan butuh keterlibatan banyak pihak. Karena itu kami mengundang siapa saja yang memiliki keperdulian yang sama untuk bergabung dengan kami

 

Referensi;

  1. http://m.metrotvnews.com/welcome-page/news/ZkeWOjAN-rugilah-yang-remehkan-simpati-nu
  2. http://nasional.kontan.co.id/news/ini-penjelasan-lengkap-rhenald-soal-daya-beli-lesu
  3. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3528503/cerita-sri-mulyani-sukses-paksa-google-bayar-pajak
  4. http://tekno.kompas.com/read/2017/08/14/17094217/facebook-resmi-buka-kantor-di-indonesia
  5. https://www.merdeka.com/uang/antisipasi-ekspansi-amazon-alibaba-suntik-lazada-dana-segar-rp-13-t.html
  6. http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/05/15/opziw5396-generasi-millenial-umkm-dan-media-pemasaran-digital
*Cariban Gaban adalah seorang Founder yang mempunyai insiatif untuk mengumpulkan praktisi Internet Marketers Nahdlatul Ulama sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum IMNU.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *