Sambut Hari Santri, IMNU Adakan Pelatihan di Berbagai Lokasi

Sambut Hari Santri, IMNU Adakan Pelatihan di Berbagai Lokasi

IMNU.or.id – Sambut Hari Santri, IMNU Adakan Pelatihan di Berbagai Lokasi – Pada tahun 2015 yang lalu, tanggal 22 Oktober telah ditetapkan menajdi Hari Santri Nasional dan sudah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo di Masjid Istiqlal, penetapan ini merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap peran para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tentunya tanggal 22 Oktober sangat disambut antusias tak hanya oleh para santri itu sendiri, melainkan juga oleh berbagai elemen bidang pendidikan keagamaan baik di dalam maupun di luar Pondok Pesantren yang ada di Indonesia.

Di Hari Santri Nasional yang akan jatuh esok hari juga menjadi dimanfaatkan betul oleh Komunitas Internet Marketres Nahdlatul Ulama’ atau yang lebih dikenal dengan IMNU ini. Komunitas yang juga akrap disana I’m NU ini menggelar pelatihan Internet Marketing di berbagai daerah untuk kalangan umum khususnya masyarakat Aswaja An Nahdliyah. Setidaknya ada tiga pelatihan Internet Marketing yang diantaranya dilaksanakan di Kabupaten Magelang, Kabupaten Sumedang, dan juga Kabupaten Tuban.

Di Kabupaten Sumedang, Kang Fahmi Baihaqi bekerja sama dengan GP Ansor Sumedang mengadakan pelatihan Internet Marketing dengan tema “Membuat Ribuan Toko Gratis!! Dengan Satu Sentuhan Tangan” yang bertepat di Pondok Pesantren Asyrofuddin, dimana Kang Fahmi Baihaqi juga merupakan salah satu pengasuh di pondok pesantren tersebut.

Pelatihan Internet Marketers di Sumedang

Tentunya pelatihan ini sangatlah bermanfaat bagi para pemilik UKM (Usaha Kecil Menengah) yang mana produk mereka bisa dipasarkan melalui Internet. Terlebih lagi menurut penelitian terakhir masyarakat Indonesia semakin lama semakin cenderung untuk berbelanja melalui Online Shop ketimbang konvensional. Selain itu kita juga dapat lebih mengenal strategi bisnis dibeberapa Market Place terkenal seperti Lazada, BukaLapak, Tokopedia, hingga Shopee dan masih banyak lagi yang lainnya.

Tak jauh berbeda dengan pelatihan yang digawangi oleh Kang Fahmi Baihaqi, Om Nano Payaman juga melakukan hal yang sama untuk daerah ia tinggal yakni di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bahkan pelatihan yang Om Nano berikan kali ini adalah yang kedua kalinya setelah pada bulan September lalu mengadakan pelatihan Internet Marketing periode pertama. Di pelatihan kali ini Om Nano mengangkat tema “Cara Cerdas Berdakwah Lewat Media Sosial” dimana dalam satu tahun terakhir dunia medsos Indonesia diuji dengan banyaknya berita hoax dan perselisihan akibat perbedaan pendapat. Namun tak hanya itu saja, Om Nano juga akan membongkar bagaimana sih kita bisa mendapatkan penghasilan melalui media sosial seperti Facebook dan kawan-kawanya.

Pelatihan Internet Marketers di Grobogan

Sedangkan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur ada nama Kang Habib yang juga mengadakan pelatihan Internet Marketing guna menyambut Hari Santri Nasional 2017. Pelatihan yang diadakan bekerja sama dengan GP Ansor Kabupaten Tuban ini jelas sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tuban dan sekitarnya karena cukup jarang sekali diadakan pelatihan Internet Marketing secara gratis kepada masyarakat umum.

Pelatihan Internet Marketers di Tuban

Sesuai dengan slogannya “Kami Ada Untuk Indonesia” IMNU hadir mencoba untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat Indonesia melalui bidang Internet Marketing. So, kamu mau ikut pelatihan yang mana gaess ? 🙂

Awenk Audico: IM Adalah Tentang Fokus dan Percepatan

Awenk Audico: IM Adalah Tentang Fokus dan Percepatan

IMNU.or.id – Awenk Audico: IM Adalah Tentang Fokus dan PercepatanSaat ini, banyak sekali pelaku Internet Marketing (IM) di Indonesia yang tumbuh dan berkembang dengan cara yang sangat diluar dugaan. Beberapa orang misalnya, memulainya karena desakan ekonomi, ada juga yang memulai karirnya karena hobi semata. Hal seperti ini juga kita temukan dalam diri Awenk Audico, salah seorang anggota IMNU yang kemudian rela meninggalkan bangku kuliahnya untuk bisa lebih fokus di dunia IM.

Dalam wawancara yang kita lakukan di kediamannya di wilayah tegal, Awenk -sebutan akrab- mengatakan bahwa dirinya hanya kuliah hingga semester 4 lalu drop out, dan memilih untuk menekuni bidang internet marketing. Dia memulai karirnya dengan menjadi seorang sales makanan ringan, Roti hingga berjualan gesek (ikan asin) alasan dia sepele yaitu dia ingin melatih mental dia di dunia nyata yang menurut dia jauh berbeda dengan teori yang ada di dunia akademis. . Pemikiran ‘nyeleneh’ seperti ini didapatkan sejak dia  membaca buku Robert Kiyosaki dan Sharon Lechter dengan judul Rich Dad Poor Dad Di tahun 2004 . Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa sekolah itu tidak ada hubungannya dengan uang  hingga suatu saat dia berfikir jika apa yang di jalaninya sekarang bukanlah suatu keputusan yang tepat sebab menurut dia jualan ofline bukan pashion dia, dia teringat akan mimpi – mimpi dia waktu masih duduk di SMA yaitu ingin mendapatkan penghasilan dari internet yang saat itu belum booming, diapun kemudian mencari fakta dan alasan kenapa dia harus terjun ke dunia online dan dia pun mendapatkan fakta yang menarik yaitu :

  1. Internet mampu mengalahkan TV dan radio untuk mendapatkan 100jt pengguna dalam waktu 3 tahun, computer butuh waktu 4 tahun dan radio butuh waktu 16 tahun
  2. Inovasi tercepat di dunia ini di duduki oleh google
  3. Jeff Bezos (Pendiri amazon.com) merupakan orang tercepat dalam mengumpulkan uang sebesar 1 juta dollar
  4. Gelar orang terkaya di dunia ini di pegang oleh Bill gates pendiri Microsoft

Setelah melihat fakta – fakta itu akhirnya Awenk memutuskan untuk bekerja di warnet selama tiga tahun, keputusan itu di ambil sebab saat itu untuk membeli kuota online saja dia tidak mampu jadi selain bisa online gratis dia juga bisa belajar disitu. Dalam kurun waktu tersebut ia akhirnya mampu belajar bagaimana cara mengahasilkan uang lewat internet. Pada tahun 2007 menjadi titik awal dimana dia terjun di dunia internet marketing dengan bermain Google Adsense, namun ternyata dia tidak beruntung di situ sebab dia tidak mendapatkan hasil dari bisnis Google Adsense,  Dia pun beralih bermain amazon dan dari situlah pertamakali dia bisa menikmati jerih payah dia , dia bisa menghasilkan uang sebesar $ 1500 dan saat itu uang segitu menurut dia sangat besar

Order Harian dari Online Shop Awenk Audico

 

Namun karna saat itu amazon melakukan Banned masal pada publishernya dia pun pindah bermain CPA, dari CPA dia bisa mendapatkan hasil sekitar 40 Jt dalam tempo 2 minggu tanpa karyawan, melihat peluang yang sangat besar pada CPA akhirnya diapun memutuskan untuk mempekerjakan 80 karyawan, pundi pundi dolarpun dia kumpulkan , Namun karna beberapa isu yang ada di CPA dia pun memutuskan untuk meninggalkan CPA sebab ada perang batin yang teramat kuat disitu,  Untuk itu, dengan ketidaknyamanan yang dia rasakan, Awenk kemudian beralih dengan meninggalkan CPA Network dan fokus ke dunia Online Shop. Awalnya, dia sangat pesimis dan ragu apakah pendapatan dari online shop bisa lebih tinggi dari CPA?  Namun keraguanya kini terbayar, dari olshop lokal dia mampu mengantongi profit 50jt – 100jt per hari terutama pada hari2 tertentu dengan mengandalkan traffic sources facebook ads.

Menurut dia kunci utama dalam kesuksesan berbisnis adalah keberanian serta menerapkan factor kali dan factor tambah, factor kali misalnya kita buka bengkel mobil dan sudah terbukti menghasilkan dari situ kita buka cabang lebih banyak, nah kalua di olshop harus berani menambah karyawan serta menaikan budget iklan, sedangkan factor tambah misalnya kita tadinya menjual tahu dan terbukti sukses kita bisa menjual prodak lain yang berhubungan dengan tahu missal tempe dll, jika kedua itu di terapkan dengan tepat maka hasilnya akan jos gandos

Salah satu trik lain dari Awenk ketika seseorang ingin memasuki dunia bisnis yaitu meluaskan pergaulan dan sering berkumpul dengan komunitas komunitas secara rutin. Awenk sendiri dalam satu bulan minimal mengenal 1 orang yang sudah terbukti sukses di bidangnya dan belajar kepadanya,  Menurutnya hal ini lebih efisien daripada kita sibuk menghabiskan uang untuk mengikuti Workshop. Bahkan, semua ilmu internet marketing yang dia lakukan saat ini didapatkan dari komunitas atau kenalannya, niatkan untuk mencari teman seluas luasnya dan jangan niatkan untuk mencari uang, sebab jika dari awal kita sudah meniatkan mecari uang / memanfaatkan teman atau relasi mungkin kita akan mendapatkan uang namun kita akan banyak kehilangan teman / relasi. Namun jika dari awal kita berniat bersilaturahmi maka uang akan dating dengan sendirinya

Reporter: Azfar Fahmi

Transkrip: Muhammad Jefri

Penyelaras: Moh Mufid Muwaffaq

Bacaan Niat Puasa Muharam

IMNU.or.id – Bacaan Niat Puasa Muharam – Awal bulan Muharam, tepatnya tanggal 9 dan 10 Muharam, umat islam disunahkan menjalankan ibadah puasa yang biasanya disebut puasa Tasu’a (9 Muharam) dan Asyura (10 Muharam). Niat merupakan. Bagian penting dari ibadah puasa sunah ini adalah niat. Dalam tulisan ini kami akan memberikan informasi tentang bagaimana bacaan niat puasa sunah muharam

Bacaan Niat Puasa Muharam

Niat diucapkan seseorang dalam hati manakala orang tersebut hendak  melakukan ibadah baik ibadah sunah maupun wajib. Pada saat seseorang melafadzkan niat, ia menyatakan maksudnya tersebut dalam hati (qashad). Niat merupakan salah satu hal terpenting dalam menjalankan setiap ibadah, sesuai dengan hadits niat dari Rosulullah SAW bahwa segala sesuatu itu bergantung pada niat. Oleh karena itu niat merupakan salah satu rukun puasa dan juga ibadah-ibadah lainnya

Pada saat menyampaikan maksud ibadah tersebut dalam hati (qashad), dalam hal ini ibadah puasa sunah bulan muharam, ia juga harus menyebutkan hukum dari ibadah tersebut, apakah puasa wajib atau puasa sunah atau istilahnya (ta’arrudh).  Selain qashad dan ta’arrudh, ia juga harus menyebutkan nama ibadahnya apa (ta’yin)

Terkait niat puasa muharam tanggal 9 dan 10 muharam, terdapat perbedaan pendapat antar sesama ulama islam (khilafiyah). Ini adalah hal yang wajar dan bisa diterima.  Perbedaan tersebut adalah sebagian para ulama menyatakan bahwa ketika seseorang berniat, ia harus mengingat ‘puasa sunah Asyura’ di dalam hatinya. Kemudian sebagian ulama lain menyatakan bahwa ketika berniat, ia tidak wajib ta’yin. Penjelasan mengenai hal ini dapat dijelaskan oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami sebagai berikut.

وْلُهُ نَعَمْ بَحَثَ إلَخْ ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالنِّهَايَةِ وَالْأَسْنَى فَإِنْ قِيلَ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ هَكَذَا أَطْلَقَهُ الْأَصْحَابُ وَيَنْبَغِي اشْتِرَاطُ التَّعْيِينِ فِي الصَّوْمِ الرَّاتِبِ كَعَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ وَأَيَّامِ الْبِيضِ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ كَرَوَاتِبِ الصَّلَاةِ أُجِيبُ بِأَنَّ الصَّوْمَ فِي الْأَيَّامِ الْمَذْكُورَةِ مُنْصَرِفٌ إلَيْهَا بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَ أَيْضًا كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ وُجُودُ صَوْمٍ فِيهَا ا هـ زَادَ شَيْخُنَا وَبِهَذَا فَارَقَتْ رَوَاتِبَ الصَّلَوَاتِ ا ه

Artinya, “Perkataan ‘Tetapi mencari…’ merupakan ungkapan yang digunakan di Mughni, Nihayah, dan Asna. Bila ditanya, Imam An-Nawawi berkata di Al-Majmu‘, ‘Ini yang disebutkan secara mutlak oleh ulama Syafi’iyyah. Semestinya disyaratkan ta’yin (penyebutan nama puasa di niat) dalam puasa rawatib seperti puasa ‘Arafah, puasa Asyura, puasa bidh (13,14, 15 setiap bulan Hijriyah), dan puasa enam hari Syawwal seperti ta’yin dalam shalat rawatib’. Jawabnya, puasa pada hari-hari tersebut sudah diatur berdasarkan waktunya.

Tetapi kalau seseorang berniat puasa lain di waktu-waktu tersebut, maka ia telah mendapat keutamaan sunah puasa rawatib tersebut. Hal ini serupa dengan sembahyang tahiyyatul masjid. Karena tujuan dari perintah puasa rawatib itu adalah pelaksanaan puasanya itu sendiri terlepas apapun niat puasanya. Guru kami menambahkan, di sinilah bedanya puasa rawatib dan sembahyang rawatib,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj)

Berikut bacaan niat puasa Tasu’a sebagaimana yang dianjurkan para ulama

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Tasu‘a esok hari karena Allah SWT.”

Berikut bacaan niat puasa Asyura sebagaimana yang dianjurkan para ulama

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.”

Menurut mazzhab Syafi’i, hanya puasa wajib yang diharuskan mengucapkan niat di malam hari, sedangkan untuk puasa sunah, ia dapat mengucapkan niatnya ketika pagi hari atau siang hari selama ia belum makan, minum dan hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh

Berikut anjuran bacaan niat puasa sunah Tasu’a atau Asyura di siang hari.

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء أو عَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â awil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Tasu’a atau Asyura hari ini karena Allah SWT.” Wallahu a’lam.

Sumber: NU Online

10 Muharram, LTN PBNU Rilis Web Layanan Nahdliyin

Tampilan Web Layanan Nahdiyin

IMNU.or.id- 10 Muharram, LTN PBNU Rilis Web Layanan Nahdliyin – Umat Islam di seluruh dunia baru saja memasuki tahun baru 1439 H. Melihat momen ini, Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama atau yang lebih dikenal dengan LTN PBNU sebagai pusat komando Informasi Nahdlatul Ulama kembali meluncurkan Website berbasis layanan untuk warga NU. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua LTN PBNU bapak Hari Usmayadi, M.Kom, M.M dalam akun Facebooknya.

Website layanan Nahdliyin ini diluncurkan tepat pada hari Assyura tangga 10 Muharram 1439 H. Website ini bertujuan untuk membantu memberikan solusi akan kebutuhan jamaah nahdliyin yang meliputi Kalkulator Zakat, Cari Ustadz, Info Pesantren, Sekolah, Perguruan Tinggi, Buku dan Koleksi Perpustakaan PBNU, Aplikasi Islami, Mesin Pencari NU, dan biografi Ulama serta info Ziarah, serta Tuntunan Ibadah yang beralamat di www.nahdlatululama.id.

Layanan Kalkulator Zakat memberikan kemudahan bagi kalangan awam untuk menghitung zakat yang harus dikeluarkan untuk selanjutnya diarahkan untuk membayar zakat ke LazisNU sebagaimana arahan dari Ketua Lazisnu Pusat, KH Syamsul.

Sementara Cari Ustadz dengan berkolaborasi dengan Lembaga Dakwah NU menampilkan data profil ustadz sesuai wilayahnya, sementara ini masih wilayah Jawa dan Bali, sehingga memberikan kemudahan bagi perkantoran yang mencari ustadz untuk keperluan katib Jum’at, kajian keIslaman, dll.

Mesin Pencari memberikan kemudahan dan jaminan keselamatan pencarian artikel keIslaman, karena hasil pencarian yang bersumber dari Google sudah difilter sedemikian rupa untuk keselamatan jamaah nahdliyin. Web ini juga menyajikan lebih dari 6.000 judul buku yang selama ini tersimpan di perpustakaan PBNU, sehingga memberikan kemudahan bagi para pencari literatur keislamaan ahlussunnah wal jamaah annahdliyah.

Bapak Hari Usmayadi, M.Kom, MM, menyampaikan harapannya agar layanan ini dapat bermanfaat bagi jamaah nahdliyin meskipun masih rilis versi beta, sementara pengembangan aplikasi lainnya dan pengakayaan data masih terus berjalan dan menjadi project yang berkesinambungan. (/Admin)

sumber: MoslemForAll

IMNU – Merubah Kemasan dan Mempertahankan Isi

IMNU: Merubah Kemasan dan Mempertahankan Isi

IMNU – Merubah Kemasan dan Mempertahankan Isi

Oleh: Cariban Gaban*

IMNU.or.id – Merubah Kemasan dan Mempertahankan Isi – Dalam berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo beberapa kali menyatakan bahwa perubahan dunia begitu cepat, kita harus terus belajar agar kita tidak terus tertinggal. Pesan pesan singkat ini mengandung makna yang dalam yang dapat merepresentasikan kondisi Indonesia dibanding dengan negara-negara maju di mana mereka berlomba menciptakan teknologi kemudian menjualnya secara masif kepada negara-negara ketiga. Negara-negara berkembang termasuk Indonesia lebih banyak menjadi sasaran produk-produk mereka. Pesan singkat Bapak Presiden ini harus terus menerus disampaikan hingga seluruh pelosok tanah air agar semangat perubahan ini terpatri dalam sanubari masyarakan Indonesia dan bergerak melakukan perubahan

Tidak terkecuali kaum Nahdliyin. Ormas islam terbesar di tanah air ini yang diperkirakan ber anggotaka lebih dari 90 juta memiliki potensi yang sangat besar sekali dalam memajukan Indonesia. Namun selama ini, potensi besar tersebut lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan sesaat seperti kepentingan politik. Kondisi pendidikan dan ekonomi sebagian besar warganya tetap dalam ketertinggalan. Di sinilah relevansinya menyampaikan pesan Bapak Presiden bahwa semangat perubahan juga harus muncul dalam diri setiap warga Nahdliyin karena perubahan pada diri mereka akan sangat mempengaruhi kemajuan bangsa

Era teknologi informasi khususnya internet yang berkembang pesat beberapa tahun belakangan ini begitu terasa betapa tertinggalnya warga Nahdliyin dalam bidang pendidikan, dakwah dan ekonomi. Ketika sebagian besar pesantren masih mentabukan internet, pada saat yang sama media ini dimanfaatkan secara optimal oleh penganut islam garis keras untuk menyebarkan pemahaaman keagamaan mereka dan mendapatkan simpatisan sebanyak-banyakan. Cara ini cukup efektif dan terbukti mendapatkan simpati  yang tidak sedikit terutama dari generasi millenial. Kita bisa lihat saat ini di dunia maya baik itu website maupun social media konten-konten aswaja khususnya dari kalangan NU kalah telak. Sebagai contoh kita bisa melakukan riset kecil-kecilan dengan mengetikan kata kunci tentang islam di halaman Google maka yang muncul di halaman tersebut bukan website-website yang dikelola NU atau berfaham aswaja. Sedikit sekali website-website aswaja yang bisa muncul di halaman pertama Google sebagai prasyarat website tersebut akan dikunjungi orang. Atau kita bisa lihat di Facebook, postingan yang viral dengan banyaknya orang yang me”like”, “comment” dan “share” hingga pulhan ribu bukanlah postingan-postingan dari aswaja. Di sinilah urgensi edukasi dikalangan Nahdliyin bahwa dunia maya baik website atau social media adalah sebuah metode yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan dakwah. Kemudian langkah berikutnya adalah mengenalkan metode yang tepat dan efektif agar menjangkau orang lebih banyak lagi lewat website dan social media

Kilas balik bulan Ramadhan kemarin, ketika Guru mulia kita Gus Mus melakukan pengajian “live streaming” yang dapat kita lihat di Youtube. Ini adalah hal positif dalam menghadapi ketertinggalan kita di dunia maya. Meski masih banyak yang perlu diperbaiki seperti kemasan atau penyajiannya agar lebih entertaining mulai dari audio, latar hingga penampilan da’inya. Ini adalah langkah awal yang harus diikuti setiap da’i dan ulama NU lainnya baik di pesantren, lembaga-lembaga NU maupun secara individu dalam menyebarkan islam yang toleran. Di internet baik website maupun social media,selain kalah dalam hal engagement (like, comment, share), postingan-postingan dengan konten aswaja juga jumlahnya sangat sedikit. Membanjiri internet dengan konten-konten aswaja ini merupakan PR yang tidak ringan yang perlu melibatkan semua pihak baik institusi maupun individu-individu warga Nahdliyin

Berikutnya, kemajuan teknologi internet dalam dunia e-commerce dampaknya begitu besar dalam hal perubahan cara orang bertransaksi dari konvensional ke digital. Sekali lagi warga Nahdliyin dalam hal ini masih sebagai target pasar dari kemajuan teknologi ini. Padahal dengan jumlah anggota yang sangat besar dan dengan UKM-UKM di bawahnya, Nahdlyin seharusnya memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk mengentaskan diri dari ketertinggalan dan bahkan menjadi pemimpin dalam dunia e-commerce ini. Namun sayangnya yang terjadi tidak demikian. Perubahan era digital ini terlambat disadari dan bahkan tidak bisa memanfaatkan potensi besar ini

Ketika perusahaan raksasa-raksasa internet dunia sudah melihat begitu besar potensi pasar Indonesia mulai dari Google yang pada tahun ini bersedia membayar pajak, Facebook yang akhirnya buka kantor cabang di Indonesia serta Jack Ma dengan Ali baba nya menginvestasikan hingga 15 trilyun di perusahaan marketplace local, ini harusnya dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku-pelaku ekonomi Nahdliyin khususnya agar berdampak secara positif kepada warga NU secara lebih luas. Dunia ini mungkin terasa masih awam untuk sebagian kalangan Nahdliyin tapi kita harus menuju kesana agar tidak terus tertinggal. Kita harus berani berubah karena perubahan pada diri kita agar berdampak sangat luas untuk Indonesia

Perubahan-perubahan di atas menjadi fokus perjuangan komunitas Internet Marketers NU (IMNU) kedepan di mana anggota yang tergabung adalah para pelaku bisnis online yang setiap hari terhubung ke internet minimal 8 jam mulai dari pelaku online shopping, blogger, facebook marketing, aplikasi android, youtuber, affiliate marketers, digital product creator dan lain sebagainya. Kami hadir bukan untuk mengubah konten-konten yang sudah jadi keahdlian saudara-saudara Aswaja kita baik di pesantren maupun lembaga struktural dan non struktural NU. Kita hanya ingin mengubah kemasan produk yang ada saat ini dari konvensional ke digital agar lebih menarik minat terutama bagi kalangan millenial yang cenderung visual. Mulai dari cara berdakwah hingga meningkatkan penjualan produk UKM. Kami sadar perjuangan ini tidak ringan dan butuh keterlibatan banyak pihak. Karena itu kami mengundang siapa saja yang memiliki keperdulian yang sama untuk bergabung dengan kami

 

Referensi;

  1. http://m.metrotvnews.com/welcome-page/news/ZkeWOjAN-rugilah-yang-remehkan-simpati-nu
  2. http://nasional.kontan.co.id/news/ini-penjelasan-lengkap-rhenald-soal-daya-beli-lesu
  3. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3528503/cerita-sri-mulyani-sukses-paksa-google-bayar-pajak
  4. http://tekno.kompas.com/read/2017/08/14/17094217/facebook-resmi-buka-kantor-di-indonesia
  5. https://www.merdeka.com/uang/antisipasi-ekspansi-amazon-alibaba-suntik-lazada-dana-segar-rp-13-t.html
  6. http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/05/15/opziw5396-generasi-millenial-umkm-dan-media-pemasaran-digital
*Cariban Gaban adalah seorang Founder yang mempunyai insiatif untuk mengumpulkan praktisi Internet Marketers Nahdlatul Ulama sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum IMNU.

NU, ASWAJA, DAN ISLAM NUSANTARA; Sebuah Proses Panjang dan Terus Berkembang

NU dan Islam Nusantara I Image source: nuyogya.wordpress.com

NU, ASWAJA, DAN ISLAM NUSANTARA;
Sebuah Proses Panjang dan Terus Berkembang (Sebuah Ikhtisar)
Oleh: Muhammad Imaduddin*

IMNU.or.id – NU, ASWAJA, DAN ISLAM NUSANTARA; Sebuah Proses Panjang dan Terus Berkembang  – Walisongo dengan ajaran Aswaja yang dibawa oleh mereka, berhasil mendialogkan ajaran Islam yang berasal dari Arab dengan tradisi masyarakat Nusantara. Jelasnya, tidak merubah tradisi masyarakat yang sudah ada dan berlangsung, tetapi mewarnai sehingga melahirkan tradisi baru keislaman masyarakat nusantara. Maka tak salah jika Clifford Gertz menyebut Walisongo itu bukan hanya sekedar dai yang menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga sebagai cultural broker, makelar kebudayaan.

Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari merumuskan Aswaja sebagai: “dalam bidang akidah mengikuti Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, dalam fiqh mengikuti mazhab empat, dan dalam tasawuf mengikuti Al-Ghazali dan Al-Junaid Al-Baghdadi”.

Masa itu, munculnya gerakan puritan Wahabi pada awal abad 18 dengan slogan kembali kepada Al-Quran dan sunnah meniscayakan penolakan terhadap pengikut-pengikut mazhab empat yang mayoritas di dunia Islam. Gerakan ini menyebar ke seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia. Maka, Hadratussyeikh menegaskan kembali tentang pengertian Aswaja, untuk membentengi umat Islam Nusantara dari pengaruh gerakan Wahabi.

Awalnya di Indonesia hanya sebagai gerakan agama, perlahan gerakan Wahabi dengan ideologi puritannya memasuki politik Indonesia. Muncullah gerakan-gerakan yang ingin mengganti Pancasila (yang juga dirumuskan oleh para ulama) sebagai ideologi negara dengan negara Islam (seperti gerakan DI/TII). Pada pihak yang berlawanan, kelompok nasionalis berusaha mewujudkan negara sekuler. Selain itu, ada lagi pihak ketiga, yaitu PKI yang ingin merubah bentuk negara dengan ideologi komunis, namun bersembunyi dibalik Bung Karno. Bangsa yang masih muda ini diambang perpecahan dan perang saudara karena pertentangan ideologi politik yang kian memanas.

Maka, KH. Wahab Hasbullah sebagai Rais Am PBNU pada waktu itu, merumuskan Garis Politik Kebangsaan. Politik Kebangsaan adalah politik yang tidak memisahkan antara nasionalisme dan agama. Keduanya selaras, bahkan saling menguatkan. Garis politik kebangsaan yang dirumuskan oleh Mbah Wahab berangkat dari nilai tawazun atau keseimbangan dalam ajaran Aswaja.
Kosep tawazun dalam politik dan sosial diperkuat kembali oleh KH. Ahmad Siddiq dengan gagasan tri ukhuwah-nya yang terkenal, yakni ukhuwah islamiah (persaudaraan) sesama umat islam, ukhuwah wathoniah (persaudaraan sebangsa dan setanah air), dan ukhuwah basyariah (persaudaraan sesama manusia). Konsep tri ukhuwah ini menjadi landasan NU dalam konteks berbangsa dan bernegara. Konsep ini adalah upaya NU dalam menjaga keutuhan NKRI.

Pada periode berikutnya konsep Aswaja NU senantiasa berkembang. Pada tahun 90-an KH. Sahal Mahfuzh menelorkan gagasan fiqh sosial dan fiqh maslahat. Fiqh sosial maksudnya adalah studi tentang fiqh (hukum islam) tidak hanya berkutat pada persoalan-persoalan normatif keagamaan, tetapi lebih jauh melangkah pada persoalan-persoalan sosial dan pemecahannya. Metode fiqh sosial berangkat dari konsep maqashid asy-syariah, yakni, filosofi penggalian hukum islam yang senantiasa berpijak pada kemaslahtan umat manusia, yakni upaya menjaga agama, jiwa, akal, kelangsungan hidup, dan harta benda. Berdasarkan ini, maka mau tidak mau metodologi pengambilan hukum Islam dalam tubuh NU, yang selama ini mengambil pendapat ulama-ulama di kitab kuning, harus beralih menggunakan metodologi manhaji. Selain itu, juga tidak lagi hanya berpijak pada mazhab syafi’i an sich. Teori maslahat dalam dalam ilmu ushul fiqh, adalah kemaslahatan di satu tempat boleh jadi berbeda di tempat lain.

Di tangan KH. Sahal Mahfuzh, Aswaja dalam bidang fiqh telah berkembang dari yang awalnya hanya mengikuti dan menyesuaikan realitas sosial dengan pendapat-pendapat para ulama dalam kitab kuning.

Sebelum KH. Sahal Mahfuzh mengeluarkan gagasan fiqh sosial, Gus Dur menerjemahkan metode dakwah walisongo ke dalam gagasan pribumisasi Islam dan multikulturalisme. Gagasan pribumisasi Islam pada dasarnya ialah persenyawaan antara ajaran Islam dengan kultur masyarakat nusantara, namun tanpa merubah prinsip-prinsip dasar agama Islam.

Dalam bahasa Gus Dur, “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi ana, sampeyan jadi antum, sedelur jadi akh. Kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi budayanya, tapi bukan ajarannya…” Dalam bahasa KH. Said Aqil Siradj, menjadikan Islam bukan sebgai aspirasi, tetapi menjadi inspirasi untuk membangun peradaban.
Gagasan Gus Dur ini disambut oleh anak-anak muda NU dengan penuh gairah. Di masanya, Gus Dur melihat upaya arabisasi Islam Indonesia sangat kental, hingga menyebabkan sebagian kalangan Islam hilang kebanggaannya dengan kebudayaan sendiri.

Namun perlu diingat, gagasan pribumisasi Islam Gus Dur bukanlah menolak Arab, tetapi mengajarkan umat Islam untuk kritis dengan memisahkan mana ajaran Islam dan mana budaya Arab tempat lahirnya agama Islam yang mempengaruhi perkembangan agama ini. Dalam bahasa kaidah fiqh sering diungkapkan dengan “al-‘adah muhakkamah”, tradisi bisa menjadi landasan hukum.

Dalam pandangan Gus Dur pula, agama merupakan ajaran yang memanusiakan manusia, bukan ajaran yang merendahkan martabat manusia. Jadi, seorang muslim adalah seorang yang menghormati sesama manusia, bukan justru melakukan kekerasan atas nama agama.
Sekembalinya KH. Said Aqil Siradj (ketum PBNU saat ini) dari studinya di Mekkah, ia langsung memaknai Aswaja sebagai manhajul fikrah (metodologi berpikir). Aswaja di tangan Kang Said, bukan lagi hanya sebuah pemahaman kegamaan, tetapi pandangan hidup seserang dalam menyikapi berbagai macam persoalan: sosial, politik, ekonomi, kebangsaan yang bertumpu pada metode tawasuth, tawazun, tasamuh.

Dan pada masa Kang Said pula ajaran berkembang menjadi Islam Nusantara. Islam Nusantara bukanlah aliran baru, bukan ajaran baru, tetapi sebuah metode memahami agama dalam interaksinya dengan kebudayaan Nusantara. Konsep Islam Nusantara merupakan ajaran Aswaja yang dibawa oleh walisongo kemudian terus dikembangkan oleh ulama-ulama NU di atas hingga mewujud dalam bentuknya saat ini.

*Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU

Muhammad Imaduddin | Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU

Sejarah dan Sekilas Tentang Internet Marketers NU (IMNU)

Pengurus IMNU Bersama KH Maman Imanulhaq

IMNU.or.idSejarah dan Sekilas Tentang Internet Marketers NU (IMNU) – Tanggal 5 Agustus 2017 menjadi hari yang bersejarah bagi IMNU, sebab tangal tersebut merupakan hari lahirnya komunitas baru di lingkungan para Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyah bernama Internet Marketers NU atau yang lebih dikenal dengan nama IMNU. Sesuai dengan namanya, Komunitas IMNU merupakan perkumpulan dari para pelaku dan pemain Internet Marketing yang menekuni bidang Blogger, Youtuber, Affiliate Marketer, Develop Android, dan beberapa bidang lainnya di Indonesia yang tentunya berfaham Aswaja An Nahdliyah.

Seiring dengan semakin berkembangnya zaman, para pelaku Internet Marketing di Indonesia pun semakin lama semakin berkembang. Tak terkecuali dari para warga NU yang sudah melek teknologi dengan memanfaatkan media internet sebagai salah satu sumber penghasilan. Namun sayangnya belum ada wadah khusus untuk menampung atau sebagai tempat berkumpulnya para Internet Marketers NU ini.

Atas dasar inilah inisiator sekaligus Ketua Umum IMNU yaitu Cariban Gaban dan dua teman lainnya yaitu Fahmi Baihaqi dan Baldan Nur Baharuddin sepakat untuk membuat perkumpulan yang menjadi cikal bakal IMNU saat ini. Om Gaban dan kawan-kawan cukup menyadari bahwa para pemain Internet Marketing yang berfaham Aswaja An Nahdliyah di Indonesia sebenarnya cukup banyak.

Terlebih lagi hadirnya IMNU sebagai bentuk keprihatinan terhadap perkembangan sosial dan keagamaan di Indonesia yang semakin hari semakin semrawut akibat semakin lebatnya jiwa merasa paling benar dalam berpendapat sehingga dengan mudah menyalahkan kelompok lain yang tidak sependapat dengannya. Belum lagi perkembangan media sosial juga turut mempengaruhi perspektif masyarakat terhadap konten yang didapat tanpa memilah mana konten yang bernilai positif dan mana konten yang bernilai negatif.

Karena niat yang tulus mengabdi pada NU, Bangsa, dan Negara, tanggal 11 Mei 2017 menjadi tonggak sejarah awal pergerakan Om Gaban dkk dalam mencari kader-kader NU yang berkecimpung di dunia Internet Marketing di Indonesia. Dan dengan Ridho Allah SWT, hanya dalam kurun waktu dua bulan saja tiga tokoh pelopor berdirinya IMNU itu sudah mampu mengumpulkan lebih dari 50 kader NU pada saat itu.

Uniknya, mereka bertiga hanya berkomunikasi melalui dua platform social media yakni Facebook dan Whatsapp mengingat tempat tinggal dari ketiga pelopor IMNU ini cukup berjauhan. Om Gaban berasal dari Bogor, Kang Fahmi berasal dari Sumedang, dan Om Baldan berasal dari Makassar.

Dan karena niat yang tulus inilah, mereka seolah tidak menemukan hambatan dalam mengumpulkan para kader muda NU yang berkecimpung di dunia Internet Marketing Indonesia dari berbagai daerah. Mulai dari Pontianak, Makassar, Jogjakarta hingga Surabaya semuanya berkumpul di Gedung PBNU yang berada di Jakarta Pusat untuk meresmikan lahirnya komunitas baru bernama IMNU.

Anggotta IMNU Bersama Menkominfo Bapak Rudiantara

Berdirinya IMNU juga tak lepas dari bantuan Lembaga Dakwah NU (LDNU) yang sangat mendukung adanya komunitas ini. Menurut salah satu tokoh LDNU yaitu Ustadz Imaduddin, hadirnya IMNU sangat membantu tugas LDNU dalam melawan radikalisme di Indonesia sekaligus menyebar konten-konten positif baik di Social Media maupun di Google yang saat ini banyak dikuasai oleh kaum-kaum berfaham radikal.

“Mereka sebagai santri dan anak-anak muda NU merasa prihatin dengan kondisi saat ini. Dimana banyak konten-konten radikal dan intoleransi di dunia maya. Apalagi sekarang ini NU seperti diserang habis-habisan. Baik para ulama maupun kiai-kiainya. Nah mereka terpanggil untuk melawan itu,” ujar Wakil Sekretaris LD-PBNU itu seperti dilansir dari laman NU.or.id

“Mereka datang dari seluruh Indonesia, ada yang dari Pontianak, Makassar, Palembang, dan berangkat atas inisiatif sendiri atau ongkos pribadi.” lanjutnya.

Selain sebagai salah satu fasilitator terbentuknya IMNU, di tanggal yang sama pihak LDNU juga menggelar workshop Dai Cyber Media dengan mengundang Menteri Komunikasi dan Informatika, Bapak Rudiantara. Dalam workshop tersebut, Menkominfo menyampaikan bahwa NU sangat di butuhkan dalam melawan radikalisme yang tak hanya di dunia nyata melainkan juga di dunia maya.

Sebab saat ini jumlah konten negatif yang ada di dunia maya dua kali lebih banyak dari konten positif. Atas hal inilah Kementrian Komunikasi dan Informatika cukup kewalahan dalam menahan derasnya arus konten negatif ini tanpa dibantu oleh masyarakat khususnya warga Nahdlatul Ulama’ yang sudah terbiasa berkecimpung di media internet.

IMNU

Dan Menkominfo sendiri sangat mendukung terbentuknya komunitas IMNU ini sebagai salah satu bentuk perlawanan paham radikalisme yang sudah menyebar luas di dunia maya. Bahkan Menkominfo siap melakukan kerja sama secara personal kepada LDNU ataupun IMNU untuk mengatasi hal tersebut.

Di waktu lain, Ketua terpilih IMNU yakni Cariban Gaban yang akrab disapa Iban ini juga menyebutkan bahwa IMNU lahir dengan tujuan untuk memberikan kontribusi kepada warga Nahdliyin khususnya di bagian Internet Marketing guna menunjang perekonomian warga Nahdliyin itu sendiri.

”IMNU sebagai wadah para pemain Imers yg berlatar belakang NU mengemban misi untuk memberikan kontribusi kepada kaum Nahdliyin utamanya dan Indonesia pada umumnya sesuai keahlian kita masing-masing di bidang IM. Jadi misi kita adalah memberikan sesuatu ke NU untuk mengangkat harkat dan martabat kaum Nahdliyin yang terkesan tidak terdidik, ndeso, dan miskin. Itu misi suci komunitas ini, bukan untuk tujuan politik atau kekuasaan sesaat meski kita tidak bisa mengelak dari masalah-masalah politik.” Ujar Iban kepada tim redaksi IMNU.or.id

Jadi, semoga dengan hadirnya IMNU di jagat dunia maya Indonesia mampu memberikan kontribusi yang signifikan kepada Indonesia secara umum dan warga NU secara khusus terkait berbagai permasalah sosial dan perkembangan teknologi internet hingga saat ini. Mohon doa dan dukungannya kepada IMNU, Terimakasih.

Ditulis Oleh: Muhammad Jefri Juniyanto

Kopdar Pertama, Anak Muda NU Ini Bahas Dakwah di Medsos

Anggotta IMNU Bersama Menkominfo Bapak Rudiantara

IMNU – NU.or.id – Lembaga Dakwah PBNU menggelar workshop Dai Cyber Media pada Sabtu (5/8). Acara yang berlangsung di Gedung PBNU Lantai 5, sejak pagi hingga malam ini, dihadiri para pemuda NU yang berkecimpung di bidang informasi dan teknologi (IT).

Ketua Panitia Workshop, M. Imaduddin, menjelaskan bahwa terselenggaranya acara ini berawal dari keprihatinan anak-anak muda NU yang merasa prihatin dengan meluasnya konten-konten radikal dan intoleransi di dunia maya.

“Mereka sebagai santri dan anak-anak muda NU merasa prihatin dengan kondisi saat ini. Dimana banyak konten-konten radikal dan intoleransi di dunia maya. Apalagi sekarang ini NU seperti diserang habis-habisan. Baik para ulama maupun kiai-kiainya. Nah mereka terpanggil untuk melawan itu,” ujar Wakil Sekretaris LD-PBNU itu.

Menurut keterangan Imaduddin, jumlah peserta yang mengikuti workshop tersebut sekitar 60 orang dan datang dari seluruh daerah di Indonesia atas inisiatif sendiri.

“Mereka datang dari seluruh Indonesia, ada yang dari Pontianak, Makassar, Palembang, dan berangkat atas inisiatif sendiri atau ongkos pribadi.”

Selama workshop, para peserta yang juga berkecimpung sebagai pegiat media sosial, blogger, internet marketer, dan pemilik online shop tersebut mendapat paparan materi seputar sosial media, internet marketing, serta jurnalistik dakwah.

Perumusan konsep dan strategi dakwah menjadi agenda terakhir rangkaian workshop pada hari itu.

Imaduddin mengatakan, harapan dari komunitas ini ke depan adalah mampu memberikan sumbangsih kepada agama, bangsa, dan negara. (Alika Rukhan/Abdullah Alawi)

sumber: NU.or.id